Jumat, 04 Januari 2013

BJ.HABIBIE DAN AINUN

  • SEPENGGAL KISAH BJ.HABIBIE DAN AINUN.
Ibu Ainun Habibie, pendamping setia mantan Presiden ke 3 BJ. Habibie, telah berpulang untuk selamanya menghadap sang Pencipta. Almarhumah meninggal di Jerman.karena mengidap penyakit kanker usus. Berbagai upaya medis telah dilakukan selama ini melalui operasi canggih. Semuanya tak mampu menghentikan kanker ganas yang diidapnya. Jenazah dibawa pulang ke Tanah Air dan karena jasa-jasanya beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata kemarin, Selasa, 25 Mei 2010. Hampir semua media nasional, cetak dan elektronik, meliput peristiwa kepergian perempuan dokter itu untuk selamanya. Atas nama pemerintah dan masyarakat Indonesia, Presiden SBY menyampaikan duka cita yang mendalam dan bertindak selaku Inspektur Upacara pemakaman almarhumah.

Nama Ainun Habibie, begitu panggilan akrabnya, tentu tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Sebab, beliau pernah menjadi ibu negara mendampingi Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie sebagai presiden RI ke 3 menggantikan Pak Harto setelah 32 tahun berkuasa yang berakhir pada 21 Mei 1998. Status sebagai ibu negara memang tidak lama, karena pemerintahan BJ. Habibie memang berlangsung pendek. Sejarah mencatatanya sebagai era transisi, dari pemerintahan otoriter ke Orde Baru ke era demokratis. Namun demikian, walau tidak lama, banyak peran --- terutama sosial dan kemanusiaan yang telah dilakukan oleh mantan ibu negara itu, seperti menjadi Ketua Perkumpulan Penyantun Mata Tunanetra Indonesia (PPMTI), Wakil Ketua Dewan Pendiri Yayasan SDM IPTEK, Pendiri Yayasan Orbit yang punya cabang di seluruh Indonesia. Semasa gejolak di Aceh antara GAM dan pemerintah Indonesia, Ibu Ainun Habibie juga terlibat kegiatan sosial dengan memberikan beasiswa kepada anak-anak Aceh. Semua merupakan bukti walau tidak lagi menjadi istri pejabat negara, almarhumah tetap menjalankan tugas-tugas kemasyarakatan dan kemanusiaan yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Ibu Ainun Habibie telah menjadi pendamping setia BJ. Habibie di masa enak dan sulit. Publik mengetahui BJ. Habibie menjadi presiden menggantikan Pak Harto dalam masa yang amat sangat sulit. Dianggap sebagai kepanjangan tangan rejim Soeharto, Presiden BJ. Habibie menghadapi tantangan yang sungguh luar biasa sulitnya. Legitimasi politiknya dianggap cacat. Karena itu, apapun yang dilakukan BJ. Habibie selalu memperoleh tanggapan negatif dari lawan-lawan politiknya. Puncaknya, pidato pertanggungjawaban BJ. Habibie ditolak MPR, sehingga BJ. Habibie tidak mengajukan pencalonan sebagai presiden. Saat itu caci maki dan hujatan bertubi-tubi ke BJ. Habibie ditanggapinya dengan tenang seolah tidak apa-apa. Ibu Ainun Habibie meghadapinya dengan tegar dan tetap mendampingi BJ. Habibie seperti biasa.

Ibu Ainun adalah sosok berkarakter. Menurut pengakukan anak-anaknya, almarhumah adalah ibu yang penyabar, tidak pernah bicara keras dan kasar, tetapi punya prisip. Prinsip kejujuran dan pola hidup sederhana merupakan dua kata kunci yang selalu ditanamkan kepada anak-anak dan keluarganya. Almarhumah adalah sosok yang tidak suka menonjolkan diri, walau sebenarnya ruang untuk itu tersedia dan tak terbatas. Sebagai seorang dokter, beliau sangat disiplin membagi waktu dan mengonsumsi makanan, termasuk untuk suaminya, BJ. Habibie.

Dr. Hasri Ainun Basari Habibie telah berpulang meninggalkan kenangan bagi masyarakat luas. Kita ikhlaskan kepergiannya menemui sang khaliq yang telah menantinya dengan bekal amal sholeh yang telah diperbuat selama hidupnya. Namun kita juga merasa kehilangan atas kepergian itu. Sebab, tidak banyak tokoh sekaliber beliau di negeri ini yang konsisten menjalankan peran-peran sosial kemasyarakatan tatkala tugas resmi sang suami telah berakhir. Banyak istri pejabat tinggi negara aktif melakukan tugas-tugas sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan dengan mendirikan lembaga-lembaga sosial. Tetapi ketika sang suami berakhir jabatannya berakhir pula peran-peran yang dilakukan sang istri. Almarhumah Ainun Habibie bukan sosok seperti kebanyakan istri pejabat.

Apa yang telah dilakukan almarhumah Ibu Ainun Habibie bisa menjadi sebuah teladan yang patut kita tiru. Masih jutaan warga negeri ini yang hidup dalam kesulitan. Mereka memerlukan bantuan tidak saja dari pemerintah, tetapi juga pribadi atau tokoh masyarakat sebagaimana telah dilakukan oleh Ibu Ainun Habibie. Tetapi kita akui bahwa kita sering memberikan apresiasi karya orang tatkala orang itu telah tiada. Sebagaimana yang kita lakukan terhadap almarhumah Ibu Ainun Habibie. Kita sadar bahwa almarhumah telah begitu banyak melakukan peran sosial kemasyarakatan tatkala beliu tiada. Selama ini publik mengetahui almarhumah hanya sebagai pendamping mantan orang nomor satu di negeri ini. . . . .
  • Kisah Sukses Habibie bersama Ibu Ainun, Kisah yang Inspiratif
Berikut ini postingan menarik dari seorang penulis Ldk Fummri Tangerang di “Bersama FUMMRI,mari menjadi mahasiswa RELIGIOUS & SMART” yang bisa menginspirasi kita semua untuk selalu bekerja keras dengan hati untuk menjadikan bangsa ini menjadi lebih baik.
  • Kisah tentang Kunjungan BJ Habibie ke Kantor Manajemen Garuda Indonesia
Garuda City Complex, Bandara Soekarno-Hatta. Jakarta, 12 Januari 2012 .

Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya(?), Adri Subono, juragan Java Musikindo. Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).

Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?

Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.

Dalam video tsb, tampak para hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN. Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250. N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan………………

Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:

“Dik, anda tahu…………..saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan……………..“Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, …….itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur………Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN.

Sekarang Dik,…………anda semua lihat sendiri…………..N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?’

Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.

Dik tahu…………….di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia………….

Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa…………….

Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua…………………?

Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun.

Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”

Pak Habibie menghela nafas…………………..

Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;

Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang). Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin. Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG). Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop. N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.

Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama……………..

N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu………bahkan hingga kini.

Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir………….kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.

Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya………………..

“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.

“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,

? Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten? C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis? D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!”

Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:

“Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik………….organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik………………”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu ………………………

“Dik, ……….saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ………..ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya…………saya mau kasih informasi……….. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu……………………”

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam………………………..seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.

Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan……………………

“Dik, kalian tau……………..2 minggu setelah ditinggalkan ibu…………suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu……… Ainun……… Ainun …………….. Ainun …………..saya mencari ibu di semua sudut rumah.

Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini…………..’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.

Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;
  • Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa! 
  • Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus…………… 
  • Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.

Saya pilih opsi yang ketiga……………………….”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) …………………. ia melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun…………..dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia………….

Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat…………. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”

Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata…………………………

Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui…………………

Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang….. (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

Dik, asal you tahu…………semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.

Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.

Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif……………….”

(pada kesempatan ini pak Habibie meminta sesuatu dari Garuda Indonesia namun tidak saya tuliskan di sini mengingat hal ini masalah kedinasan).

Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.

Ketika bumi semakin tua. Ketika kesetiaan cinta sejati mulai diragukan orang, ketika kemurnian cinta seringkali dipermainkan orang, ternyata masih ada juga pasangan suami-istri yang telah dengan sungguh-sungguh memelihara kemurnian cintanya. Maut pun seolah tak dapat menghentikan kenangan cinta abadi yang telah tergores indah di hati. Walaupun raga telah tepisahkan oleh kematian, namun cinta sejati tetap tersimpan abadi di relung hati. Kisah cinta almarhumah Hasri Ainun Habibie dan mantan Presiden Republik Indonesia B J Habibie memberikan pelajaran serta inspirasi bagi semua pasangan suami-istri di penjuru tanah air, betapa indahnya memelihara kesetiaan cinta sampai akhir hayat. Bila mengenang almarhumah Hasri Ainun Habibie, BJ Habibie tak kuasa menahan kesedihannya. Bola mata Habibie yang biasanya selalu berbinar-binar bila sedang berbicara tentang teknologi dan pandangan politiknya…saat itu berubah redup…hingga tetes air mata membasahi pipi. Siapa pun yang melihatnya ikut hanyut dalam duka. Siapa pun tak menyangka, seorang pria yang biasanya selalu tegar dan ceria itu ternyata menyimpan sisi romantisme yang patut menjadi teladan. Sungguh sempurna pribadi BJ Habibie, beliau memiliki otak yang cerdas cemerlang, karier dan kedudukan yang terhormat dalam masyarakat, dan beliau ternyata juga memiliki cinta sejati untuk sang istri. Betapa bahagia dan bangganya almarhumah Hasri Ainun Habibie memiliki suami yang mencintai almarhumah sampai di keabadian. Tentu banyak wanita yang ingin nasibnya seberuntung almarhumah Hasri Ainun Habibie, menjadi wanita utama di hati suaminya. 

Sesuatu yang sulit didapatkan pada jaman ini. Selamat jalan Bunda, terimakasih atas perhatian Bunda pada semua orang yang memerlukan bantuanmu. Hingga akhir hayat, Ibunda Ainun Habibie telah mencurahkan perhatiannya untuk mengurus dua lembaga sosial; pertama adalah Yayasan Orbit yang memberikan beasiswa dari SD sampai S1 dan kedua, perhimpunan bank mata. Ini adalah bukti cinta Ibunda Ainun Habibie pada masyarakat Indonesia. Almarhum menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Sabtu 22 Mei 2010 setelah menjalani operasi kanker rahim di salah satu rumah sakit besar di Munich, Jerman. Almarhumah Ainun dimakamkam di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, pada hari Selasa 25 Mei 2010. Pada masa hidupnya ia pernah menerima penghargaan bintang jasa Republik Indonesia kelas 2 Bintang Mahaputra Adi Pradana. Hasri Ainun Habibie dilahirkan di kota Semarang, 11 Agustus 1937. 

Putri keempat dari delapan bersaudara keluarga H Mohammad Besari ini dikenal ramah kepada siapa pun.Ainun dan Habibie menikah pada tanggal 12 Mei 1962. Kedua pasangan yang saling mencintai ini berbulan madu di beberapa tempat, yaitu: Kaliurang-Yogyakarta, kemudian ke Bali, dan diakhiri di Ujung Pandang yang merupakan kampung halaman Habibie. Setelah menikah, Ainun harus ikut Habibie yang menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Jerman. Kehidupan awal di sana dilalui dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan karena pendapatan beasiswa Habibie yang teramat kecil. Namun walaupun keadaan yang serba pas-pasan, Ainun tak pernah mengeluh. Dengan sabar dan penuh cinta kasih, Ainun tetap setia mendampingi Habibie.Dalam suka dan duka. Agar dapat menghemat, Ibu Ainun pun sempat menjahit sendiri pakaian bayi untuk buah hati yang sedang dikandungnya. Dari pernikahan ini, pasangan sejati tersebut memiliki dua orang putra yang masing-masing bernama llham Akbar dan Thareq Kemal serta enam orang cucu. 

SUMBER : http://joynoviyana.blogspot.com/2012/04/sepenggal-kisah-bj-habibie-dan-ainun.html 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar